MENGAPA ada peringakat 1-10? Berkat guru-guru kita, dong!

Bookmark and Share

MENGAPA ada peringakat 1-10? Berkat guru-guru kita,dong! "Mengapa? karena diharapkan/dibutuhkan 10 orang dengan pengaruh masing-masing, generasi muda harapan bangsa. 
-Dengan syarat: Bukan orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya ( berburu nilai dengan prinsip nyontek adalah usaha, cari muka alias munafik; sok bermanis-manis depan guru, tugas bersama, ulangan-ujian-PR sama saja; bukan usaha sendiri, sebodo amat mau repot-repot kan tinggal nyalin; buka buku pelajar pas ‘hari H’ doang, di kelas pula. 

  Semuanya demi nilai bagus; takut ama nilai; mendewakan nilai). ‘Semuanya’ hal tersebut, kudapatkan/kupelajari saat di SMPN 12 Makassar. Kita dapat berperingkat dengan cara yang berbeda, dari gaya kita sendiri. Dimana, terdapat banyaknya murid dengan keberagaman pribadi dan cara berpikir kami masing-masing, Tapi pihak sekolah memahami kami dengan baik. Untuk itu kami dapat betah dan sangat semangat ke sekolah yang nyaman tersebut. 

   Tidak ada dendam atas sikap dan kelakuan kami, Makanya kami menjadikan beliau-beliau (para guru-guru kami tercinta) sebagai sahabat yang paling berarti. Yang mungkin tidak akan kami temui di SMA nanti, sosok seperti beliau-beliau yang menemani hari-hari kami selama di SMA nanti. Di SMPN 12 Makassar, kami diperingkatkan dengan cara yang sesungguhnya. Ke-10nya memang bereda tapi saling melengkapi, paket sempurna dengan passion dan karisma mereka. Itu semua karena peran wali kelas dan guru-guru kami yang sangat ber-koordinasi dengan baik dengan pemahamannya. 

    Mereka menemukan kami dan membangun kami menjadi suatu kebanggaan. Bahkan, orang-orang tak terduga bisa/dapat peringkat. Karena setiap semesternya daftar peringkat diisi orang yang berbeda, walaupun segilintir; 1-3 orang yang tetap. Tapi berasa wajar-wajar saja dan tidak monoton karena mereka memang, terbukti!

  Persahabatan kami pun masih tetap terjaga, sangat malah walaupun sudah jadi anak SMA. Kami masih terus menjaga hubungan baik dan komunikasi sebagai pelipur lara, penghapus rindu saat kangen-ketemuan, menteraktir/diteraktir, bercandaan. Bahkan, cenderung kami lebih bangga dengan ‘dubels’ (nama beken SMP kami itu) ketimbang sekolah kami yang sekarang (SMA). Kami ingin mengulang masa-masa itu. Yakinlah dengan sangat ‘dubels’=unforgettable and colorful of love. Di sana kami tumbuh dan berkembang, dibekali sebaik mungkin. Hingga lahirlah tunas muda, harapan nusa dan bangsa yang berbakat/potensial, intelektual, moralis, dan technological. Oleh Karena itu, kami dapat berbicara dan berbuat banyak di pendidikan selanjutnya dengan membuktikannya lewat apa saja yang telah kami dapatkan, diberikan sebagai bekal oleh semua guru kami di SMPN 12 Makassar, semua yang tersayang di dubels. Dan jadilah, kami sebagai orang berpengaruh yang terbentuk/dirintis dari bawah dan memang sudah sepatutnya seperti itu, tidak langsung jadi begitu saja, ingin dikenal dan menjadi begitu secara instant. Karena itu akan snagat menyiksa/berat, berasa dipaksakan atau terlalu dibuat-buat dan pastilah kita/suatu instansi seperti sekolah harus pernah merasakan jatuh-bangun, bukan untuk merasa harus berdiri di atas terus-menerus, terlalu ambisius.

  Guru-guru BK dan staff ‘TU’ kami pun berkwalitas dan selalu jadi wadah serta solusi bagi kami, karena kami snagat merasa begitu dekat dengan mereka. Beliau-beliau mengenal serta memahami kami, mengetahui akan siapa dan bagaimana kami dengan sebaik-baiknya, seutuhnya. Tidak hanya sekedar GU(gila urusan) yang over dosis semata! Tidak mencari-cari kesalahan, mempermasalahkan hal kecil, mengumba-umbar curhatan(masalah) kami dari sesi konseling menjadi bahan perbincangan hangat dengan guru-guru untuk sekedar bergosip, kesenangan semata. Beliau (guru-guru BK kami di ‘dubels’) selalu mengutamakan kwalitas ajaran/bimbingan mereka, bukan promosi dengan umbaran-umbaran semata. ‘TU’ juga jadi Important-spot bagi saya dan teman-teman yang berprestasi/berkepentingan khusus, tempat mendapatkan ‘bonus hasil-usaha’ kami selama bersekolah di ‘dubels’. Saya pribadi, jadi langganan TU untuk urusan beasiswa (Alhamdulillah), ‘dubels’ akan sangat mengerti dan menyesuaikan keadaan serta kondisi yang dihadapkan. Sebagai murid kurang mampu dan berprestasi, saya bisa dapatkan “bebas biaya sekolah”, dapat beasiswa tiap semesteran pula, jadi double! Ditambah pemudahan akses tiap ngurus-ngurus berkas/administrasi di ‘TU’. Mereka melayani kami dengan baik dan tidak mempersulit keadaan bahkan sangat membantu.

  Saya sekarang sudah jadi alumni, jadi tak dapat lagi menikmati suasana ‘dubels’ yang sangat nyaman dan bersahabat. Oleh karena itu, tak salah guru-guru dan semua pihak sekolah di SMPN 12 Makassar dapat dijadikan contoh sebagai ciri-ciri guru yang baik, menurut saya. Terbukti! Beberapa waktu yang lalu, guru-guru kami berhasil mendapatkan 13 satya lencana dari bapak Presiden Indonesia, sebagai bukti kesetiaan dan bentuk pengabdian mereka yang tulus serta dengan profesionalisme dan pengalaman/kematangan mereka yang menjadikan SMPN 12 Makassar sukses dan banyak diminati/dipercaya oleh masyarakat. Itulah mereka, sosok guru-guru yang dengan niat tulus mendidik bukan sekedar memburu uang dan sertifikasi-gaji lebih. Saya bangga pernah memilikinya! Semoga mereka juga demikian.


{ 0 التعليقات... Views All / Send Comment! }

إرسال تعليق